# Tags
#Review

Review Film The Lost City

The Lost City menampilkan sebuah cerita petualangan mencari harta karun legendaris. Sandra berperan sebagai Loretta Sage, seorang penulis novel erotis. Sedangkan, Channing memerankan Alan Caprison, model sampul novelnya.

Premis film ini cukup menjanjikan. Loretta baru saja menyelesaikan novel terakhirnya tentang sebuah kota yang hilang. Namun, selama menulis novel itu, Loretta jadi tertutup. Dia tidak pernah keluar rumah dan hanya berkutat degan laptop dan pikirannya. Novel Loretta laris di tengah para wanita muda. Mereka rata-rata menggilai sosok Dash, tokoh utama novel itu. Dash adalah Alan dengan gaya rambut gondrong. Dia digambarkan tampan, macho, dan sifat terbaik cowok fiktif di dalam cerita novel yang pernah ada.

Setelah tampil di acara perilisan novel terbarunya yang berakhir kacau, Loretta diculik miliarder asal Inggris, Abigail Fairfax (Daniel Radcliff). Abigail ternyata menemukan kota di novel Loretta dan berambisi menemukan mahkota merah yang menjadi harta karun yang hilang di kota itu. Dia butuh Loretta untuk membaca peta yang bisa menunjukkan lokasi mahkota tersebut. Menghilangnya Loretta membuat timnya kalang kabut. Alan yang merasa bersalah pun turun tangan. Dia menghubungi pelatihnya, Jack Trainer (Brad Pitt). Berdua, mereka pergi ke pulau di Pasifik untuk menyelamatkan Loretta. Film ini mengikuti alur yang sangat sederhana. Tidak banyak kejutan yang berarti atau pun plot twist yang spektakuler.

Kesimpulan

Menonton film ini seperti membaca novel romantis ala Harlequin. Karakter ceweknya sukses, menarik, dan tidak punya kehidupan asmara. Sementara, cowoknya berpenampilan macho, ganteng, dan akan melakukan apa pun untuk melindungi si cewek. Adegan laga di film ini pun terkesan biasa saja. Malah nanggung. Dibilang intensif, tapi ada unsur humornya. Tapi, humornya pun juga bukan humor yang lucu-lucu amat. Biasa saja, malah cenderung flat.

Ceritanya juga flat dan gampang sekali ditebak. Satu-satunya yang menonjol dari film ini adalah chemistry Sandra dan Channing. Dengan dua karakter yang sifatnya terasa tidak sinkron, Sandra dan Channing mampu menghidupkan hubungan Loretta dan Alan dengan baik. Alan dengan sikapnya yang sok macho akhirnya bisa membuat Loretta yang tertutup untuk terbuka. Loretta masih tidak bisa move on dari suaminya yang meninggal dunia. Sejak kepergian suaminya, Loretta jadi menutup diri dan menyibukkan diri dengan menulis novel. Sedangkan Alan menjadi model karena dia pikir itu adalah jalan termudah untuk mendapatkan uang. Sebagai model novel Loretta, lama-lama Alan merasa dekat dengan sosok Dash yang menjadi karakter utama cowok di novel itu dan selau berusaha dekat dengan Loretta. Adegan canggung dan konyol di antar kedua orang itulah yang menjadi nyawa film ini. Film ini menarik karena keberadaan mereka. Karakter lain seolah hanya tempelan. Bahkan begitu juga dengan antagonisnya, Abigail Fairfax.

Sumber : gensindo.sindonews.com

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *